Anak Kecil yang Sholat di Tengah Shaf Orang Dewasa

Anak Kecil yang Sholat di Tengah Shaf Orang Dewasa

Anak Kecil yang Sholat di Tengah Shaf Orang Dewasa

Kali kali pertanyaan ini ditanyakan terhadap Ustadz pada waktu sesi tanya jawab. Pertanyaan itu adalah, \”Terputuskan shaf yang ada anak kecil belum baligh shalat di tengahnya?\”

Sebelum menjawab pertanyaan ini mari kita kenyataan yang ada di masjid-masjid di dekat rumah kita. Lazimnya, yang paling duluan datang ke masjid pada saat masuk shalat lima waktu adalah anak-anak. Apalagi di masjid tersebut ada TPA atau MDA. Pastilah mereka duluan yang masuk ke masjid sebelum masyrakat setempat tiba. Orang-orang dewasa dan orang tua datang kadang-kadang datang sesudah imam berdiri di depan dan berkata, \”Rapatkan dan luruskan shaf!\” Sementara anak-anak sudah sedari tadi mengendalikan shaf sebelum orang dewasa tiba.

Bukankah patut orang yang datang telat tahu diri untuk shalat di shaf belakang atau di shaf depan yang masih kosong; dimanapun yang ada lowong; dengan tidak mengganggu shaf yang sudah disusun anak-anak?

Namun, kenyataannya beberapa besar di antara kita memerintahkan anak-anak yang belum baligh tersebut sedikit bergeser ke pinggir, atau malahan membubarkan shaf yang sudah mereka bentuk. Kita suruh mereka pindah, membuat shaf di belakang, sebab kuatir masih akan ada orang dewasa yang datang telat dan menjadi makmum masbuk.

Baca juga artikel berhubungan lain:
Cara Shalat Orang-Orang Saleh
Tidak Suka Melakukan Shalat? Tidak Sulit!

Tidak salah memang, sebab memang demikian itu pernitah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, \”Siapa yang menyambung shaf, Allah akan menyambungnya dan siapa yang memutus shaf, Allah Ta’ala akan memutusnya. (HR. Nasai 827)
Kembali ke pertanyaan awal, \”Terputuskan shaf yang ada anak kecil belum baligh shalat di tengahnya?\”

Selanjutnya mari kita istilah yang berhubungan dengan umur anak

Tamyiz
Tamyiz adalah istilah yang diterapkan untuk menceritakan umur anak yang sudah dapat membedakan antara yang bagus dan yang buruk, dapat membedakan antara yang berkhasiat dan yang berbahaya dirinya. Dia dapat memahami shalat, dia tahu shalat itu tidak boleh kentut, tidak boleh lari-lari, atau berkelakar. Dia tahu, najis tidak boleh diraba, aurat patut ditutupi, dan sebagainya.

Indikator umur tamyiz lebih bersifat psikologis, dan bukan indikator lahiriah. Lazimnya, anak menginjak umur tamyiz saat berusia 7 tahun.

Shalat anak tamyiz statusnya legal. Padahal dia belum baligh. Karena batas awal keabsahan ibadah adalah umur tamyiz dan bukan baligh. Untuk itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan terhadap orang tua yang si kecilnya sudah sudah 7 tahun, supaya mereka disuruh untuk shalat.

Baligh
Umur di mana anak sudah mendapatkan muatan syariat. Sehingga mereka berdosa saat meninggalkan instruksi agama atau melanggar larangan agama. Indikator umur ini adalah indikator lahiriah, untuk anak lelaki indikatornya mimpi berair – keluar mani -, sementara untuk wanita ditandai dengan datangnya haid.

Umur baligh sungguh-sungguh variatif, sebab ada banyak unsur yang mempengaruhinya.

Anak yang sudah baligh sudah diharuskan shalat. Selanjutnya artinya shalatnya legal jika dikerjakan sesuai rukunnya.

Selanjutnya, Syaik Athiyah Saqr dalam kitab Fatawa Al Azhar menyebtukan bahwa anak kecil (tamyiz) tidak menentukan shaf jika cukup 2 prasyarat:

Karena berkhitan
Karena jika belum berkhitan ada najis yang terdapat di bawah kulit, yang disebut dengan hasyafah. Artinya, shalat anak kecil yang belum di khitan belumlah legal sebab masih ada najis di komponen tubuhnya.
Wudhu anak yang masih kecil tersebut (tamyiz) sempurna.
Dengan demikian shalat anak kecil (tamyiz) tersebut syah, sama seperti shalat orang dewasa di sampingnya. kedua hal tersebut terpenuhi karenanya anak kecil (tamyiz) yang shalat di tengah shaf orang dewasa tidaklah menentukan shaf. Jadi, tidak perlulah kita suruh dia pindah untuk shalat di shaf belakang atau ke pinggir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *